Jumat, 29 Maret 2019

Bab II : Talkshow and Open Discussion

Hari selasa adalah hari paling santai bagiku. Hanya ada satu mata kuliah dan dosennya cukup menyenangkan dan dapat di bawa santai.

Namun, selasa kali ini cukup berbeda.

Lanjutan dari LKMM dilaksanakan hari ini yaitu selasa yang menyenangkan. Kegiatan LKMM kali ini yaitu talkshow dan focus grup discussion.

Talkshow kali ini bertema kepemimpinan. Ada 3 pembicara dalam talkshow tersebut. Seorang pengusaha muda(?), seorang polisi yang rada suka pamer, dan satu lagi yang tidak bisa berhadir dan hanya berbicara lewat video(?).

Pembicara pertama menceritakan kisah hidupnya saat sebelum sukses. Pekerjaan yang berat dengan gajih yang tidak terlalu besar. Gonta-ganti profesi terus dialami.

Hal itu terus dialami hingga dia menemukan ide untuk membuat sebuah perusahaan kubah satu-satunya di kalimantan selatan.

Ada 7 kunci dalam kesuksesan yang pengusaha muda itu sampaikan yakni ;
1. Ide
2. Tindakan
3. Tindakan
4. Tindakan
5. Tindakan
6. Tindakan
7. Tindakan

Aku bertanya-tanya kenapa 3 hingga 7 tidak diubah saja menjadi coba lagi.

Next!

Pembicara kedua adalah seorang polisi yang suka pamer. Meskipun suka pamer, namun polisi itu sangat hebat. Terbukti dengan foto-foto yang dia tunjukan pada slide presentasinya. Namun ada satu foto yang membuatku benar-benar terganggu. Dia memamerkan fotonya yang di apit oleh dua cewe(?) cantik asal Thailand. Tidak, tunggu, itu waria kan??!

Apapun.  (゚¬゚)

Tunggu dulu, aku tidak bisa mengingat sisa presentasinya.   つ´Д`)つ

Sisa yang kuingat adalah bahwa dia membagikan uang dengan mudahnya kepada para peserta mahasiswa.

( ̄∇ ̄)

Next.

Karena aku ngantuk aku tidak memperhatikan pembicara ketiga yang hanya berbicara lewat video(?).

Sekip.

Acar berikutnya yakni diskusi.

Setiap kelompok diberi waktu 15 jam untuk membuat presentasi mereka terlebih dahulu sebelum di jadikan bahan diskusi. Tunggu, maaf, maksudku 15 menit.  ( ͡~ ͜ʖ ͡°)

Temanya adalah sebagai berikut:
1. Digitalisasi mempermudah atau mempersulit.
2. Mana yg lbh dibutuhkan mahasiswa teknik, softskill atau hardskill?
3. Benarkah revolusi 4.0 mengefisiensikan produktifitas, tetapi menghilangkan lapangan pekerjaan?

Hasil diskusi pertama adalah seluruh peserta sepakat bahwa digitalisasi itu memudahkan. Bagaimana tidak, dengan digitalisasi berbagai kebutuhan manusia jadi lebih di mudahkan. Digitalisasi mempermudah berbagai bodang terutama komunikasi, ekonomi, dan informasi.

Tetapi meski begitu, digitalisasi juga berdampak buruk yakni juga mempermudah tindakan kriminal. Namun, hasil ini bukanlah salah dari digitalisasi melainkan kesalahan dari orang yang memakainya. Penyalah gunaan alat akan berdampak buruk tergantung pemakainya.

Next.

Ada dua kubu yang berbeda dari hasil diskusi kali ini. Yang mendukung hard skill dan yang mendukung soft skill.

1 untuk hardskill dan 3 untuk soft skill.

Hardskill adalah ketrampilan akademik dan sains sementara softskill adalah ketrampilan berbicara dan berorganisasi.

Kubu softskill terus mempertahankan pendapatnya selagi penonton mengajukan berbagai penentangan. Sementara itu kubu hardskill diam seribu bahasa.

Jujur saja. Aku lebih ke kubu hardakill karena tujuan dari kuliah adalah menuntut ilmu yakni hardakill.

Sedangkan itu soft skill bisa didapat dengan masuk organisasi yang sifatnya optional bagi mahasiswa.

Jika membaca penjelasanku di atas maka kalihan akan tau bahwa hardskill bersifat wajib sedangkan softskill bersifat sunah bagi mahasiswa.

Tapi, meski aku berkata seperti itu. Aku yakin bahwa manusia itu berbeda-beda, mau fokus pada hardskill, fokus pada softskill, mau pun keduanya. Itu adalah pilihan kita sendiri.

Kekurangan yang kita miliki dapat ditutupi oleh orang lain, sedangkan kelebihan kita dapat memutupi kekurangan orang lain. Itu membuktikan bahwa kita sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri.

Next!!

Lagi-lagi ada dua kubu kali ini. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini kubu pro dan kontra seimbang satu sama lain.

Benarkah revolusi 4.0 mengefisiensikan produktifitas, tetapi menghilangkan lapangan pekerjaan?

Ada yang berkata bahwa hal tersebut menghilangkan lapangan pekerjaan dan ada yang berkata bahwa hal tersebut tidak menghilangkan lapangan pekerjaan.

Kesimpulan yang kuambil dari diskusi topik ini adalah revolusi 4.0 mengefisienkan produktifitas, tetapi juga menggeser beberapa pekerjaan menkadi lebih canggih dan maju. Sehingga orang-orang yang tidak dapat mengikuti perkembangan jaman menjadi kehilangan pekerjaan. Namun, sisi baiknya hal ini juga memicu munculnya berbagai lapangan pekerjaan baru lebih banyak dari sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar